Kamis, 26 September 2013

PRESENTASI
Nama               : Rani Alida simbolon
Semester           : v (lima)
Mata kuliah     : Pengembangan Kurikulum PAK
Dosen              : Dr.Uli Saut. P. Nainggolan M.Th
Judul               : Landasan Sosial~ Budaya Dalam Pengembangan Kurikulum

Latar Belakang
Pada zaman dahulu, waktu manusia masih hidup dalam rombongan-rombongan masyarakat kecil, terpencil dan sederhana, pendidikan anak-anak untuk kehidupannyan dalam masyarakat itu diselenggarakan di luar sekolah dan tanpa sekolah. Segala sesuatu pendidikan diperoleh dari lingkungan tanpa pendidikan formal di sekolah.  Disamping itu ia mempelajari adt-istiadat yang turun temurun dari nenek moyangnya sehingga ia dapat menagtur kelakuannya sesuai dengan norma-norma yang berlaku di lingkungannya.
            Akan tetapi pendidikan itu tidak serasi lagi apabila terjadi perubahan-perubahan dalam masyarakat, yang menuntut syarat-syarat yang lebih tinggi dan lebih berat dari tiap warga negara. Ank-anak harus memiliki bermacam-macam keterampilan dan sejumlah besar pengetahuan agar hidupnya terjamin. Perubahan dalam masyarakat, terutama dalam akhir-akhir ini sangat cepatnya, sehingga sering sekolah tidak sanggup mengkuti jejak kemajuan masyarakat. Akibatnya : sekolah bertambah lama bertambah jauh ketinggalan dan di cap konservatif, tradisional. Sekolah tidak dapat  bergerak secepat masyarakat dan sering sekolah berpegang teguh pada mata pelajaran yang dahulu memang fungsionalnya, akan tetapi  dalam masa moderen ini sudah tidak lagi memenuhi tuntutan zaman. Timbullah kecaman bahwa sekolah itu kolot mengasingkan diri dari masyarakat dan karena itu tidak mampu dan serasi lagi untuk mempersiapkan anak-anak bagi kehidupan mereka dalam dunia modern ini. Kritik serupa ini akan selalu timbul dan mengharuskan sekolah untuk meninjau kurikulumnya kembali agar lebih relevan dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat.

LANDASAN SOSIAL-BUDAYA, DALAM  PENGEMBANGAN KURIKULUM
Kurikulum dapat dipandang sebagai suatu rancangan penddikan. Sebagai suatu rancangan, kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan karena memang pendidikan mempersiapkan kita generasi muda untuk terjun kelingkungan masyarakat. Pendidikan bukan hanya pendidikan tetapi memberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapa perkembangan lebih lanjut dimasyarakat.
Menurut Esther Mariana, M.Th bahwa pendidikan adalah bukan ditentukan formal atau non-formalnya akan tetapi segala sesuatu yang menambah ilmu kita adalah pendidikan sehingga Beliau menyebut seni dalam pendidikan (the art of education). Oleh karena itu , tujuan,isi,maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kondisi, karakteristik, kekayaan dan perkembangan masyarakat tersebut.
A.    Pendidikan Dan Masyarakat
Ada tiga sifat penting pendidikan yaitu : 1) pendidikan mengandung nilai dan memberikan pertimbangan nilai. 2) pendidikan diarahkan pada kehidupan dalam masyarakat. 3)pelaksanaaan pendidikan dipengaruhi dan didukung oleh lingkungan masyarakat tempat pendidikan itu berlangsung. Pelaksanaan pendidikan membutuhkn dukungan dari lingkungan masyarakat, penyediaan fasilitas,personalia,sistem sosial budaya, politik, keamanan dan lain-lain.
            Tujuan umum pendidikan sering dirumuskan untuk menyiapkan generasi muda menjadi orang dewasa anggota msyarakat yang mandiri dan produktif. Hal itu merefleksikan konsep adanya tuntutan individual (pribadi) dan sosial dari orang dewasa kepada generasi muda. Konsep pendidikan bersifat universal, tetapi pelaksanaannya pendidikan bersifat lokal, disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat setempat. Pendidikan  dalam suatu lingkungan masyarakat tertentu berbeda sistem sosial-budaya, lingkungan alam, serta sarana dan prasarana yang ada. Menurut Prof.DR. Nana Syahodih Sukmadinata menuliskan dalam bukunya bahwa setiap lingkungan masyarakat masing-masing memiliki sistem sosial-budaya yang berbeda. Sistem sosial-budaya ini mengatur pola kehidupan dan pola hubungan antar anggota masyarakat, antar anggota dan lembaga, serta antara lembaga dan lembaga.
            Salah satu aspek yang cukup penting dalam sitem sosial-budaya adalah tatanan nilai-nilai. Tatanan nilai merupakan seperangkat ketentuan, peraturan ,hukum,moral yang mengatur cara berkehidupan dan berperilaku para warga masyarakat. Dan nilai-nilai tersebut bersumber dari agama, budaya ,kehidupan politik, maupun segi-segi kehidupan lainnya. Sejalan dengan perkembangan masyarakat maka nilai-nilai yanga da dalam masyarakat juga selalu berkembang, dan mungkin pada suatu saat perkembangan itu drastis, sehingga tidak jarang menimbulkan perbedaan bahkan konflik nilai.
            Perbedaaan konflik nilai tersebut dilatarbelakangi oleh perbedaan tatanan yang berakar pada perbedaan-perbedaan pola-pola kebudayaan.menurut Tylor (1871), kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang meliputi pengetahuan, kepercayaan ,kesenian,hukum,moral,adat-istiadat, serta kemampuan dan kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Pendidikan merupakan bagian dari kebudayaan. Dalam arti yang lebih mendasar, pendidikan merupakan suatu proses kebudayaan. Setiap generasi muda menempatkan dirinya dalam urutan sejarah kebudayaan. Menurut Israel Schefflee (1958) melalui pendidikan manusia mengenal peradaban masa lalu, turut serta dalam peradaban masa sekarang dan membuat peradaban masa yang akan datang.
            Proses pembudayaan tidak berlangsung secara sendirian, melainkan harus dalam interaksi dengan orang lain, interaksi dalam lingkungan. Kehidupan massyarakat tidak dapat terlepas dari tempat masyarakat itu berada. Masalah tempat menyengkut linkungan alam dan keadaan geografis. Lingkungan alam dan geografis mempengaruhi perilaku dan pola hidup para anggota masyarakat.  Kehidupan masyarakat juga dipengaruhi oleh tingkat kemajuan yang telh dicapainya.
B.     Perkembangan Masyarakat

1.      Perubahan Pola pekerjaaan
Karena pengaruh perkembangan teknologi maka terjadi perubahan yang cukup drastis dalam pola pekerjaan.masyarakat yang secara berangsur-angsur terutama diperkotaan sering terjadi loncatan, berubah dari kehidupan  yang berpola agraris ke pola kehidupan industri. Dalam hidup pola industri, sifat-sifat yang dimiliki masyarakatnya lebih jauh bebeda. Diversifikasi pekerjaan dan tugas-tugas dalam suatu pekerjaan melahirkan spesialisasai tersebut. Hal ini mengakibatkan adanya keragaman tugas dan pekerjaan. Bekerja dibidang industri tidak lagi bergantung kepada musim (hujan atau kemarau,panas atau dingin), bisa bekerja sepangjang masa, malah bisa bekerja siang atau malam. Hal ini mengakibatkan hidup santai ditinggalkan dan diganti dengan pola hidup yang kerja keras mengejar target meningkatkan produksi.
Dan bekerja dengan tugas masing-masing dan sesuai dengan konsentrasi masing-masing, oleh karena itu sifat gotongroyaong semakin menipis dan diganti dengan alur kerja sama sesuai dengan alur kerja. Penggunaan peralatan berteknologi tingi tidak menuntut banyak orang, tetapi sedikit orang akan tetapi berkemampuan tinggi. Sifat kompetetif, baik dengan sesama karyawan maupun dengan waktu atau prestasi sebelumnya, lebih mewarnai kehidupan dalam masyarakat industri. Perubahan yang terjdi ini bukan saja karena peralatan baru atau jenis pekerjaan yang baru, tetapi karena dunia berorientasi pada pasar.
2.      Perubahan Peranan Wanita
Dewasa ini jumlah wanita yang berpendidikan relatif seimbang dengan kaum pria, sebagai akaibat emansipasi yang membuka kesempatan kepada kaum wanita untuk memperoleh pendidikan. Diperkuat dengan perubahan pandangan tentang kedudukan wanita, wanita tidak lagi hanya bekerja di rumah, mengurus anak dan keluarga seperti pada pola kehidupan lama.
            Dengan bekerja di luar rumah, wanita lebih bebas bergerak, berkarya dan berkreasi dibandingkan apabila hanya bekerja di rumah tangga. Wawasaan dan pengetahuan mereka luas, potensi-potensi yang dimilikinya da[pat diwujudkan dan disalurkan. Memang banyak pekerjaan-pekerjaan yang lebih berhasil bila dikerjakan oleh wanita. Wanita yang bekerja dapat menambah penghasilan keluarga sehingga kesejahteraan ekonomi nkeluarga lebih baik.
            Disamping sejumlah kebaikan dari para wanita yang bekerja, sejumlah masalah dan kesulitan juga muncul. Masalah pertama berkenan dengan kehidupan sosial-pribadi wanita. Wanita yang bekerja apabila menikah mempunyai tugas ganda, menyelesaikan tugas-tugas keluarga. Masalah kedua berkenan dengan kehidupan keluarga. Wanita betapapun tinggi tingkat pendidikan dan jabatan yang dipegangnya, tidak bisa dilepaskan dari kodratnya sebagai wanita, sebagai istri dan ibu. Tugas yang banyak menyita waktu, tenaga dan perhatian dalam pekerjaan dan karier, bgaimanapun akanmenelentarkan pelaksanaan tugas-tugasnya dalam rumah tangga. Hal itu mengakibatkan keluarga tidak harmonis, pendidikan anak terbengkalai, kesejahteraan rumah tangga terabaikan dan mungkin terjadi perpecahan keluarga(Broken Home). Perpecahan keluarga ada dua macam pecah secara stuktur à cerai antara suami dan istri dan kedua pecah secara fungsi àtidak bercerai tetapi masing-masing pihak tidak melaksanakan fungsi yang semestinya.
            Masalah ketiga brkenaan dengan situassi pekerjaan. Pekerjaan dan karier bukan hanya tempat beristirahat, tetapi tempat berkarya, berekreasi, berprestasi dan berkompetensi. Situassi tersebut akan menuntut sikap,penampilan,pemikiran dan unjuk kerja yang optimal. Masalah tersebut akan bertambah lagi apabila terjadi situasi-situasi yang tidak sehat atau meyimpang.
3.      Perubahan Kehidupan Keluarga
            Perkembangan kehidupan keluarga sejalan dengan perkembangan masyarakat.  Pola kerja masyarakat modern (industri) menuntut waktu kerja yang tidak teratur, melebihi waktu biasa. Dalam keluarga ,anak juga mempunyai masalah sendiri. Anak-anak yang belum bersekolah tinggal dirumah bersama pembantu. Mereka lebih banyak hidup dan bergaul dengan pembantu daripada dengan orang tuanya.
            Banyaknya waktu yang digunakan untuk bekerja akan seimbang dengan penghasilan yang diperoleh. Apalagi bila suami-istri bekerja penghasilan mereka jauh lebih banyak.  Penghasilan tinggi akan meningkatkan kemampuan ekonomi dan kesejahteraan keluarga. Disamping memperoleh nilai lebih dari pola kerja pada masyarakat modern, beberapa masalah juga dihadapi dalam kehidupan keluarga. Kesibukan di luar batas kewajaran bisa mengorbankan pelaksanaan fungsi-fungsi keluarga.  Hubungan  harmonis antara suami-istri , komunikasi pedagogis antara orangtua dan anak bisa sangat terbatas,bahkan mungkin hilang.
Di lain pihak juga memberikan sumbangan tentang aspek sosial ~ budaya ialah :
            Perubahan pola hidup, yaitu terjadinya perubahan dari masyarakat agraris tradisional menuju kehidupan industri modern.Perubahan tersebut dapat dilihat dalam beberapa  :
a. Pola kerja, pada masyarakat agraris cenderung teratur berlangsung siang hari, dari pagi hingga sore, tetapi tidak demikian pada masyarakat indutri, mereka cenderung tidak teratur, dan memiliki waktu yang lebih panjang.
b. Pola hidup yang sangat bergantung pada hasil teknologi, pada masyarakat industry ketergantungan pada hasil teknologi lebih tinggi, bahwa dalam kehidupannya menjadi suatu yang harus dipenuhi, daripada masyarakat petani yang agraris tradisional
c. Pola hidup dalam system perekonomian baru, yaitu bahwa pertumbuhan ekonomi, ditandai dengan penggunaan produk perbankan dengan sistim baru, munculnya pasar modern yang semakin menggeser pasar tradisional, tidak hanya membawa dampak positif saja tetapi  terkadang pengaruh negative terhadap pola hidup masyarakat. Tiga hal tersebut merupakan hal-hal yang perlu diperhatikan ketika akan menyusun kurikulum, sehingga dapat ditentukan muatan atau materi untuk bekal menghadapi kondisi tersebut.
d. Perubahan kehidupan politik, yaitu perubahan politik yang diakibatkan era globalisasi, perubahan yang terjadi baik dalam wilayah nasional maupun internasional. Sebagai contoh di Indonesia, dengan era reformasinya, maka semua aspek berubah, tidak terkecuali pendidikan. Pendidikan harus diarahkan untuk menciptakan manusia yang kritis dan demokratis. Karena itu perubahan kea rah transparansi harus ditangkap oleh para pengembang kurikulum. Kehidupan demokratis harus menjiwai kurikulum. Hal ini yang mendasari munculnya produk hukum yang memberikan kewenangan daerah untuk mengurusi rumah tangganya termasuk dalam bidang pendidikan. Sinyal yang harus ditangkap para pengembang kurikulum di daerah, untuk memberdayakan pendidikan sebagai pembentuk generasi yang handal sesuai dengan nilai dan kebutuhan masyarakat local, nasional, maupun global. Berkaitan dengan sosial budaya ini yang harus dilakukan oleh para pengembang sebelum menyusun kurikulum ialah:  
a. Mempelajari dan memahami kebutuhan masyarakat seperti yang dirumuskan dalam peraturan,perundangan.  
b.Menganalisis budaya masyarakat tempat sekolah/madrasahberada c.Menganalisiskekuatan serta potensi daerah
d.Menganalisis syarat dan tuntutan tenagakerja
e. Menginterpretasi kebutuhan individu dalam kerangka kepentingan masyarakat
KESIMPULAN :
            Kurikulum merupakan suatu rancangan pendidikan. Sebagai suatu rancangan, kurikulum memiliki peran dalam mengarahkan pelaksanaan dan hasil pendidikan. pendidikan bukan hanya untuk pendidikan semata, namun lebih dari itu memberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat. Peserta didik berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan baik formal maupun informal dalam lingkungan masyarakat dan diarahkan bagi kehidupan masyarakat pula. Kehidupan masyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan.  Untuk itu muncullah pengembangan kurikulum yaitu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Sumber Buku : Prof.Dr.S. Nasution,M.A “Asas-Asas Kurikulum”, Prof. Dr. Nana Syaqdih Sukmadinata “Pengembangan Kurikulum”,  Arif Rohman menuliskan dalam bukunya “Pendidikan Komperatif”.


























           



Landasan sosial budaya
Kurikulum merupakan suatu rancangan pendidikan. Sebagai suatu rancangan, kurikulum memiliki peran dalam mengarahkan pelaksanaan dan hasil pendidikan. Kita telah memahami bersama bahwa pendidikan merupakan usaha mempersiapkan peserta didik untuk terjun ke lingkungan masyarakatnya. karena itu, pendidikan bukan hanya untuk pendidikan semata, namun lebih dari itu memberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di masyarakat. Peserta didik berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan baik formal maupun informal dalam lingkungan masyarakat dan diarahkan bagi kehidupan masyarakat pula. Kehidupan masyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaan budayanya menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan. Dengan pendidikan, kita semua berharap muncul manusia – manusia mampu memahami masyarakat dan mampu membangun kehidupan masyakatnya. Dengan pentingnya peran kurikulum tersebut, tujuan, isi, maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, karakteristik, kekayaan dan perkembangan yang ada di masyarakat, yang mana setiap lingkungan masyarakat masing-masing memiliki-sosial budaya tersendiri yang mengatur pola kehidupan dan pola hubungan antar anggota masyarakat. Salah satu aspek penting dalam sistem sosial budaya adalah tatanan nilai-nilai yang mengatur cara berkehidupan dan berperilaku masyarakat. Nilai-nilai tersebut dapat bersumber dari agama, budaya, politik atau segi-segi kehidupan lainnya. Sejalan dengan perkembangan masyarakat maka nilai-nilai yang ada dalam masyarakat juga turut berkembang, sehingga menuntut setiap warga masyarakat untuk melakukan evalusi, pengembangan, penyesuaian, bahkan perubahan pola hidup masyarakat mengikuti tuntutan perkembangan yang terjadi di sekitar masyarakat. Israel Scheffer (Nana Syaodih Sukamdinata, 1997) mengemukakan bahwa melalui pendidikan manusia mengenal peradaban masa lalu, turut serta dalam peradaban sekarang dan membuat peradaban masa yang akan datang. Dengan demikian, kurikulum yang dikembangkan sudah seharusnya mempertimbangkan, merespons dan menjadikan perkembangan sosial-budaya dalam suatu masyarakat, baik dalam konteks lokal, nasional maupun global sebagai salah satu landasan yang harus dijadikan tempat berpijak.
Kita maklumi bersama bahwa masyarakat tidak bersifat statis. Seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, masyarakat juga mengalami perubahan, menuju masyarakat yang semakin kompleks. Perubahan tersebut bukan hanya terjadi pada system nilai tetapi juga pada pola kehidupan, struktur sosial, kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Kompleksitas tersebut yang selanjutnya memunculkan kelompok-kelompok sosial, tertentu yang selanjutnya memengaruhi kurikukulum, seperti tekanan-tekanan dari kelompok politik tertentu terhadap materi pendidikan, belum lagi tekanan dari kelompok lain yang memiliki pandangan yang berbeda.
Pengembang kurikulum, meskipun sulit, harus memerhatikan setiap tuntutan dan tekanan masyarakat yang berbeda-berbeda. Di sini perlu adanya usaha untuk menyerap berbagai informasi yang dibutuhkan masyarakat. Selanjutnya para pengembang kurikulum perlu menjalankan peran evaluative dan kritisnya dalam menentukan muatan kurikulum, untuk menentukan muatan-muatan yang memang layak untuk dimasukkan dalam kurikulum.

           


Sumber Buku :
Prof.Dr.S. Nasution,M.A “Asas-Asas Kurikulum”
Prof. Dr. Nana Syaqdih Sukmadinata “Pengembangan Kurikulum”



PRESENTASI
Nama               : Rani Alida Simbolon
Semester          : V (Lima)
Mata Kuliah    : Administrasi Pendidikan
Dosen              : Drs. Abson Kawangung
Sumber Buku : “Administrasi Pendidikan Kontemporer “, DR. H. Syaiful Sagala , M.Pd



KONSEP DASAR DAN SISTEM PENDIDIKAN
A.    Konsep Dasar Dan Pemahaman Tujuan Pendidikan
            Kata- kata pendidikan, bimbingan, pengajaran, belajar, pembelajaran, dan pelatihan sebagai istilah-istilah teknis yang kegiatan-kegiatannya lebur dalam aktivitas pendidikan. Pendidikan sebagi aktivitas berarti upaya yang secara sadar dirancang untuk membantu seseorang atau sekelompok orang dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, pandangan hidup, sikap hidup dan keterampilan hidup baik yang bersifat manual individual dan sikap hidup dan keterampilan hidup baik yang bersifat manual individual dan sosial.
            Istilah education dalam bahasa Inggris yang berasal dari bahasa latin “Educere” yang berarti memasukkan sesuatu. Pendidikan sebagai fenomena adalah peristiwa perjumpaan antara dua orang atau lebih yang dampaknya ialah berkembangnya suatu pandangan hidup, sikap hidup, atau keterampilan hidup pada salah satu atau beberapa pihak.
            Pada hakekatnya pendidikan itu mempunayi asas-asas tempat ia tegak dalam materi, interaksi, inovasi dan cita-cita. Pendidikan menurut pandangan individu adalah menggarap kekayaan atau potensi yang terdapat pada setiap individu agar berguna bagi individu itu sendiri dan dapat dipersembahkan kepada masyarakat. Dilihat dari sudut pandangan masyarakat pendidikan itu sekaligus sebagai pewarisan kebudayaan dan pengembangan potensi-potensi. Menurut Langgulung (1988: 4) memasukkan sesuatu itu melalui proses pendidikan dimaksudkan adalah memasukkan ilmu pengetahuan ke kepala seseorang. Jadi proses memasukkan tampak tig hal yang terlibat yaitu :

1.      Ilmu pengetahuan itu sendiri;
2.      Proses memassukkan ilmu pengetahuan;
3.      Kepala atau diri seseorang. Karena itu pendidikan itu mempunyai asas-asas sebagai tempat ia tegak dalam materi, interaksi, inovasi dan cita-citanya.
Disamping itu Syaiful Sagala menerangkan bahwa untuk mengetahui dan mendalami asas-asas pendidikan ini bukanlah hanya tugas pemikir dan ahli-ahli saja, tetapi juga para praktisioner seperti guru, konselor, supervisor, kepala sekolah dan pejabat kantor urusan pendidikan pada tingkat pemerintah pusat yaitu Departemen Pendidikan Nasional, pemerintah Provinsi yaitu dinas Dinas Pendidikan Provinsi, dan pemerintah Kabupaten/kota.  Paradigma baru urusan pendidikan pada era reformasi atau pasca orde Baru yaitu dalam sisitem desentralisasi pemerintahan mempunyai kekhasan sendiri memberdayakan sekolah. Para profesional akan berhasil menelaah spesialisasinya yang memerlukan asas-asas untuk mempermahir profesi, menambah pengetahuan, memperkaya pengalaman dan mengembangkan keterampilan.
            Berkenaan dengan asas-asas yang dimaksudkan menurut langgulung (1988:6) asas pendidikan yang diuraikan dengan enam asas yaitu :
1.      Asas historis dengan mempersiapkan pendidik melalui hasil pengalaman masa lalu, dengan undang-undang dan berbagai peraturannya, batas-batas dan kekurangan –kekurangannya.
2.      Asas-asas sosial yang memberinya kerangkan Budaya darimana pendidikan itu bertolak dan bergerak, memindah Budaya memilih dan mengembangkannya.
3.      Asas-asas ekonomi yang memberinya persfektif tentang potensi-potensi manusia dan keuangan, materi dan persiapan yang mengatur sumber-sumbernya dan bertanggungjawab terhadap anggaran belanjanya,
4.      Asas-asas politik dan administrasi yang memberinya bingkai ideologi darimana ia bertolak untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan dan rencana yang telah dibuat.
5.      Asas-asas psikologis yang memberinya informasi tentang watak pelajar-pelajar, guru-guru, cara-cara terbaik dalam praktek pencapaian, penilaian, pengukuran dan bimbingan dan
6.      Asas-asas filsafat yaitu berusaha memberi kemampuan memilih yang lebih baik, memberi arah suatu sistem, mengontrolnya, dan memberi arah kepada asas-asas yang lain.
            Selanjutnya dituliskan bahwa interaksi asas-asas ini dalam prosese pembelajaran menghendaki beberapa keterangan yaitu ; 1) setiap asas itu bukanlah suatu Ilmu atau mata pelajaran tetapi sejumlah ilmu dan cabang-cabangnya, 2) asas-asas itu memberi pendidikan ituu sebagai siste-sisitem organisasi-organisasi, inovasi,dan pembaharuan ;3) asas-asas ini mempunyai sukar memainkan peranannyatanpa filsafat yang mengarahkan gerak dan mengatur langkahnya karena filsafat yang bertugas dan meneliti, memilih dan menguji pendidikan yang umum dapat diterima oleh masyarakat luas. Kompleksitas urusan pedidikan pada tingkat sataun pendidikan dan pada tingkat birokrasi pada pemerinta pusatdan daerah sebgai pihak yang memberi pelayanan satuan pendidikan menjadi bagian dari kajian ilmu administrasi. Sedangkan aspek penyampaian materi, kurikulum, bahan ajar, perencanaan pengajaran, kegiatan belajar dan mengajar, pendekatan pembelajaran, evaluasi kemajuan hasil belajar, dan yang berkaitan dengan pembelajaran adalah menjadi bagian dari ilmu pendidikan sebagai  terapan dari psikologi, sosiologi, antropologi, ilmu komunikasi dan filsafat.

1.      KONSEP DASAR PENDIDIKAN
            Semakin baik pendidikan suatu bangsa, semakin abik pula kualitas bangsa itu, asumsi ini merupakan program pendidikan suatu bangsa. Secara faktual pendidikan menggambarkan aktivitas sekelompok orang seperti guru dan tenaga pendidikan lainnya melaksanakan pendidikan untuk orang-orang muda bekerjasama dengan orang-orang yang berkepantingan.  Kemudian secara persfektif yaitu memberi petunjuk bahwa pendidikan adalah muataun,arahan, pilihan yang ditetapkan sebagai wahana pengembangan masa depan anak didik yang tidak terlepas dari keharusan kontrol manusia sebagai pendidik.
            Menurut pandangan Piaget (1896) pendidikan didefenisikan sebagai penghubung dua sisi, disatu sisi individu yang sedang tumbuh berkembang, dan disisi lain nilai sosial, intelektual dan moral yang menjdai tanggung jawab pendidik untuk mendorongt individu tersebut. Sedangkan pernyataan filosofis pendidikan harus diangkat ke level  konsep yang lebih tinggi, sehingga terlepas dari pengertian yang hanya melihat sebagai pendidikan sebagai kegiatan belajar mengajar di kelas saja dan suatu usaha membantu orang lain menjadi manusia terdidik, dan nilai ini muncul sebagai fenomena sosial.  Menurut saya sebagai pemberi laporan bacaan adalah setuju bahwa pendidikan itu sesungguhnya bersifat luas tidak dibatasi dengan institusi atau lembaga, sekolah (formal) dan informal akan tetapi pendidikan juga merupakan segala sesuatu yang kita lakukan yang memberi pelajaran atau hal baru di lain pihak pendidikan itu merupakan seni.
            Teori pendidikan menurut D.J.O’ Cornor hanyalah sebagai penghargaan rasa hormat saja. Lebih lanjut O’Cornor mengatakan bahwa teori pendidikan tidak memiliki keterkaitan logis sebagai suatu rangkaian hipotesis dan gagal membentuk suatu paradigma sebagai sutau teori Ilmiah. Saya sebagai pembaca Tidak Setuju dengan pernyataan Cornor karena menurut saya bahwa segala usaha yang dilakukan baik itu terjadi kegagalan atau dengan hipotesa yang tidak akurat sekalipun merupakan teori pendidikan namun teori ini akan diletakkan dimana dan bagaimana kita memahami hipotesa yang gagal tersebut, lebih lanjut lagi bahwa dari kegagalan yang kita alami akan benyak memberikan sejuta sumber ilmu.
            Konsep pendidikan adalah usaha sadar yang dilakukan oleh orang dewasa kepada orang yang belum dewasa melalui pengajaran, bimbingan, dan latihan bagi perananya dimasa yang akan datang. Sedangkan Kriterianya adalah ukuran yang menjadi dasar penilaiaan atau penetapan sesuatu Equity, equality, adequancy, dan feasibility. Indikator maupun variable yang mempengaruhi pendidikan adalah politik, ekonomi, budaya , masyarakat atau keluarga, geografis dan kependudukan serta produktivitas pendidikan.  Dari defenisi ini saya sebagai pembaca memahami bahwa pendidikan mengandung pengertian yang lebih luas dari pengajaran, karena sasaran pendidikan tidak hanya mencakup pengembangan intelektualitas saja akan tetapi lebih ditekankan pada proses pembinaan kepribadian anak didik.
            Pada dasarnya “mengajar” adalah membantu/ mencoba membantu seseorang untuk mempelajari sesuatu dan apa yang dibutuhkan dalam belajar itu tidak ada kontribusinya terhadap pendidikan orang yang belajar. Dalam proses belajar diamana guru sebagai kelompok profesi pengajaran dalam pendidikan. Aspek administrasi dan ilmu pendidikan menjadi bagian yang terintegrasi dalam pengelolaan pendidikan secara institusional maupun secara substansi dalam bentuk aktivitas pembelajaran.


2.      PEMAHAMAN AKAN TUJUAN PENDIDIKAN
            Dalam presfektif organisasi tujuan adalah adanya kesepakatan umum mengenai misi dan merupakan sumber legitimasi yang membenarkan setiap kegiatan organisasai, serta eksistensi organisasi itu sendiri.  Selain itu tujuan sebagai patokan yang dapat digunakan anggota organisasi maupun kalangan luar untuk menilai keberhasilan organisasi, misalnya mengenai efektivitas maupun efesiensi. Dalam persfektif ini tampak bahwa tujuan adalah sasaran akhir yang ingin dicapai atau hasil akhir yang menjadi arah suatu kegiatan manajemen dalam suatu sistem administrasi.
            Tujuan dan target pendidikan yang dirumuskan tersebut seyogiyanya menjadi guideline atau direction bagi pemimpin pendidikan baik para birokrat yang berada pada pemerintahan maupun pemimpin pendidkan pada satuan pendidikan. Menurut saya dari penjelasan yang cukup banyak diatas bahwa tujuan merupakan komponen utama yang terlebih dahulu harus dirumuskan, peranan tujuan sangat penting sebab menentukan arah proses pendidikan, tujuan yang jelas pula terhadap pemilihan program pendidikan, menetapkan strategi dan sumber daya yang diperlukan.
            Sedangkan tujuan pendidikan nasional adalah mengandung makna terwujudnya kemampuan bangsa menangkal setiap ajaran, paham, atau ideologi yang bertentangan dengan pencasila. Artinya program dan proses pendidikan itu pada semua tingkatan dan jenis pendidikan di arahkan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional tersebut. Kemampuan melakukan pendekatan secara holistic akan tujuan pendidikan adalah upaya guru dan pemimpin pendidikan mengendalikan manejerial pendidikan. Pandangan ini memberi penjelasan bahwa pendidikan harus berlaku universal dan diarahkan untuk menyadarkan manusia bahawa diri mereka sedang melaksanakan tugas mulia yaitu menyampaikan ilmu pengetahuan dengan cara-cara yang edukatif dan mencapai tujuan yang terukur dan perolehan hasil belajar yang bermutu.
B.     SISTEM DAN PROSES PENDIDIKAN
1.      Sistem Pendidikan
            Istilah sistem menurut Shorode dan Voich (1974:115) berasal dari bahasa Yunani yakni “systema”, sedang systema mempunyai arti à suatu keseluruhan yang terdiri dari sejumlah bagian-bagian. Namun defenisi system itupun sudah berkembang tergantung bagaimana seseorang mendefinisikan dan menggunakannya. Menurut  Roos (1982:9) sistem adalah seperangkat unsur yang melakukan sesuatu kegiatan atau membuat skema dalam rangka mencapai tujuan dengan mengolah data atau energi dan atau barang dalam jangka waktu yang tertentu guna menghasilkan informasi, energi dan hal benda.
            Jika pendidikan dipandang sebagai sistem , maka apakah yang dimaksud dengan sistem itu. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa sistem pendidikana adalah suatu keseluruhan yang terbentuk dari bagian –bagian yang mempunyai hubungan fungsional dalam mengubah masukan menjadi hasil yang diharapkan.sedangkan pendekatan sisitem adalah cara-cara berfikir dan bekerja yang menggunakan konsep-konsep teori sistem yang relavan dalam memecahkan masalah. Sistem pendidikan nasional adalah satu keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Sistem itu dirancang, dilaksanakan ,dikendalikan oleh manusia dengan hasil yanh diatur oleh manusia. Menurut buku yang saya baca bahwa sistem pendidikan itu dapat berubah-ubah dan berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan tempat ataupun orang yang menjadi sasaran dari sistem itu. Ada sistem terbuka yaitu yang mengambil energi/ masukan dari lingkungan; mentransformasikan energi yang tersedia; memberikan hasil kepada lingkungan dan lain sebagainya. Saya sebagai pembaca dapat memberikan kesimpulan tentang sistem terbuka ini merupakan sistem yang menggambarkan struktur bagian-bagiannya terus menyesuaikan diri dengan masukan dari lingkungan yang terus menerus, berubah-ubah dalam usaha dapat mencapai kapasitas optimalnya.
            Hal yang mempengaruhi input-output pendidikan tersebut adalah sistem sosial budaya, ekonomi, hukum, politik dan sebagainya baik yang berkaitan dengan masukan dan hasil pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Oleh karena itu masukan pendidikan di proses dalam suatu sistem pendidikan terikat pada suatu sistem lingkungan, karenanya dalam manajemen pemerintahan Indonesia sistem pendidikan itu harus mengandung nilai lingkungan sebagai karakteristik Budaya Indonesia. Dengan demikian bentuk masukan dalam pendidikan dapat berupa informasi atau keterangan mengenai pendidikan(pengetahuan, nilai-nilai dan cita-cita), tenaga (penduduk dan tenaga kerja),barang (sarana pendidikan dan perlengkapan), hal-hal yang terdapat dalam lingkungan tidak semuanya dan dengan sendirinya dapat menjadi masukan pendidikan. Sistem persekolahan atau pendidikan formal mempunyai aturan permainan yang lebih tersurat dan lengkap dibanding dengan sistem pendidikan keluarga ataupun sistem pendidikan masyarakat. Bagian-bagian yang mempunyai fungsi tertentu dalam mencapai tujuan sistem pendidikan disebut komponen sistem pendidikan. Sedangkan fungsi-fungsi yang bekerja dalam pencapaian tujuan pendidikan disebut proses pendidikan. Kesemuanya ini menggambarkan kegiatan dua orang atau lebih dalam mencapai tujuan atau yang disebut dengan kinerja administrasi dalam pendidikan.
Hal-hal baru dari materi(pembahasan) Konsep Dasar dan Sistem Pendidikan :
            Dengan membaca buku ini saya mendapatkan hal baru bahwa sesungguhnya kesuksesan sebuah pendidikan secara khusus di lembaga sekolah ditentukan oleh seorang Guru, sebagai Mahasiswi Konsentrasi PAK (Pendidikan Agama Kristen) yang artinya akan terjun kelembaga sekolah untuk mengajar dan berkecimpun disana yang perlu diperhatikan oleh seorang Guru adalah memahami terlebih dahulu Konsep Pendidikan tersebut serta sistem-sistem dalam pendidikan sehingga akan mempengaruhi kualitas pendidikan, profesionalisasi oleh seorang Guru dan tenaga pendidikan, peran Administrator satuan Pendidikan serta komponen-komponen lain yang bersangkutan yang terpenting adalah sasaran atau Visi dan Misi kita.
            Selain itu saya semakin memahami tentang kualifikasi-kualifikasi seorang pendidik bahwa harus mampu memahami pendidikan itu sendiri yang bersifat luas dan bagaimana sistem-sistem yang digunakan sesuai dengan kebutuhan lingkungan, masyarakat serta harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi dan yang paling utama bahwa semuanya itu dikendalikan oleh pemerintah yang berwajib yaitu  pemimpin yang memanejerial pendidikan dengan di ikuti tujuan yang jelas dan terarah.
Perencanaan-perencanaan yang akan dilakukan kedepan setelah membaca buku :

Sebagai Mahasiswi yang notabennya STT (sekolah Tinggi Theologi) serta konsentrasi   PAK(Pendidikan Agama Kristen) akan mempersiapkan diri terlebih dahulu baik itu AAdalam aspek Kognitif, Afektif dan Psikomotorik serta harus mampu merencanakan   apa yang harus dilakukan , pelaksanaan serta sistem-sistem pendidikan itu harus             dikuasai terlebih dahulu.
Kelebihan dan Kelemahan Buku :
Buku ini sangat bagus untuk dibaca dan dipelajari karena memang buku ini sangat gamblang menjelaskan tentang pendidikan secara khusus. Akan tetapi sebagai pembaca harus mampu mengkritisi buku ini jangan terlalu di terima mentah-mentah karena ada beberapa asumsi dari para ahli yang dimuat di buku yang tidak dapat diterima .