PRESENTASI
Nama : Rani Alida simbolon
Semester
: v (lima)
Mata
kuliah : Pengembangan Kurikulum PAK
Dosen : Dr.Uli Saut. P. Nainggolan M.Th
Judul : Landasan Sosial~ Budaya Dalam
Pengembangan Kurikulum
Latar Belakang
Pada
zaman dahulu, waktu manusia masih hidup dalam rombongan-rombongan masyarakat
kecil, terpencil dan sederhana, pendidikan anak-anak untuk kehidupannyan dalam
masyarakat itu diselenggarakan di luar sekolah dan tanpa sekolah. Segala
sesuatu pendidikan diperoleh dari lingkungan tanpa pendidikan formal di
sekolah. Disamping itu ia mempelajari
adt-istiadat yang turun temurun dari nenek moyangnya sehingga ia dapat menagtur
kelakuannya sesuai dengan norma-norma yang berlaku di lingkungannya.
Akan tetapi pendidikan itu tidak
serasi lagi apabila terjadi perubahan-perubahan dalam masyarakat, yang menuntut
syarat-syarat yang lebih tinggi dan lebih berat dari tiap warga negara.
Ank-anak harus memiliki bermacam-macam keterampilan dan sejumlah besar
pengetahuan agar hidupnya terjamin. Perubahan dalam masyarakat, terutama dalam
akhir-akhir ini sangat cepatnya, sehingga sering sekolah tidak sanggup mengkuti
jejak kemajuan masyarakat. Akibatnya : sekolah bertambah lama bertambah jauh
ketinggalan dan di cap konservatif, tradisional. Sekolah tidak dapat bergerak secepat masyarakat dan sering
sekolah berpegang teguh pada mata pelajaran yang dahulu memang fungsionalnya,
akan tetapi dalam masa moderen ini sudah
tidak lagi memenuhi tuntutan zaman. Timbullah kecaman bahwa sekolah itu kolot mengasingkan
diri dari masyarakat dan karena itu tidak mampu dan serasi lagi untuk
mempersiapkan anak-anak bagi kehidupan mereka dalam dunia modern ini. Kritik
serupa ini akan selalu timbul dan mengharuskan sekolah untuk meninjau
kurikulumnya kembali agar lebih relevan dengan perkembangan dan kebutuhan
masyarakat.
LANDASAN SOSIAL-BUDAYA,
DALAM PENGEMBANGAN KURIKULUM
Kurikulum
dapat dipandang sebagai suatu rancangan penddikan. Sebagai suatu rancangan,
kurikulum menentukan pelaksanaan dan hasil pendidikan karena memang pendidikan
mempersiapkan kita generasi muda untuk terjun kelingkungan masyarakat.
Pendidikan bukan hanya pendidikan tetapi memberikan bekal pengetahuan,
keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapa perkembangan
lebih lanjut dimasyarakat.
Menurut
Esther Mariana, M.Th bahwa pendidikan adalah bukan ditentukan formal atau
non-formalnya akan tetapi segala sesuatu yang menambah ilmu kita adalah
pendidikan sehingga Beliau menyebut seni
dalam pendidikan (the art of education). Oleh karena itu ,
tujuan,isi,maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kondisi,
karakteristik, kekayaan dan perkembangan masyarakat tersebut.
A.
Pendidikan
Dan Masyarakat
Ada
tiga sifat penting pendidikan yaitu : 1) pendidikan mengandung nilai dan
memberikan pertimbangan nilai. 2) pendidikan diarahkan pada kehidupan dalam
masyarakat. 3)pelaksanaaan pendidikan dipengaruhi dan didukung oleh lingkungan
masyarakat tempat pendidikan itu berlangsung. Pelaksanaan pendidikan membutuhkn
dukungan dari lingkungan masyarakat, penyediaan fasilitas,personalia,sistem
sosial budaya, politik, keamanan dan lain-lain.
Tujuan umum pendidikan sering
dirumuskan untuk menyiapkan generasi muda menjadi orang dewasa anggota
msyarakat yang mandiri dan produktif. Hal itu merefleksikan konsep adanya
tuntutan individual (pribadi) dan sosial dari orang dewasa kepada generasi
muda. Konsep pendidikan bersifat universal, tetapi pelaksanaannya pendidikan
bersifat lokal, disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat setempat.
Pendidikan dalam suatu lingkungan
masyarakat tertentu berbeda sistem sosial-budaya, lingkungan alam, serta sarana
dan prasarana yang ada. Menurut Prof.DR. Nana Syahodih Sukmadinata menuliskan
dalam bukunya bahwa setiap lingkungan masyarakat masing-masing memiliki sistem
sosial-budaya yang berbeda. Sistem sosial-budaya ini mengatur pola kehidupan
dan pola hubungan antar anggota masyarakat, antar anggota dan lembaga, serta
antara lembaga dan lembaga.
Salah satu aspek yang cukup penting
dalam sitem sosial-budaya adalah tatanan nilai-nilai. Tatanan nilai merupakan
seperangkat ketentuan, peraturan ,hukum,moral yang mengatur cara berkehidupan
dan berperilaku para warga masyarakat. Dan nilai-nilai tersebut bersumber dari
agama, budaya ,kehidupan politik, maupun segi-segi kehidupan lainnya. Sejalan
dengan perkembangan masyarakat maka nilai-nilai yanga da dalam masyarakat juga
selalu berkembang, dan mungkin pada suatu saat perkembangan itu drastis,
sehingga tidak jarang menimbulkan perbedaan bahkan konflik nilai.
Perbedaaan konflik nilai tersebut
dilatarbelakangi oleh perbedaan tatanan yang berakar pada perbedaan-perbedaan
pola-pola kebudayaan.menurut Tylor (1871), kebudayaan merupakan keseluruhan
yang kompleks, yang meliputi pengetahuan, kepercayaan
,kesenian,hukum,moral,adat-istiadat, serta kemampuan dan kebiasaan yang
diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Pendidikan merupakan bagian dari
kebudayaan. Dalam arti yang lebih mendasar, pendidikan merupakan suatu proses
kebudayaan. Setiap generasi muda menempatkan dirinya dalam urutan sejarah
kebudayaan. Menurut Israel Schefflee (1958) melalui pendidikan manusia mengenal
peradaban masa lalu, turut serta dalam peradaban masa sekarang dan membuat
peradaban masa yang akan datang.
Proses pembudayaan tidak berlangsung
secara sendirian, melainkan harus dalam interaksi dengan orang lain, interaksi
dalam lingkungan. Kehidupan massyarakat tidak dapat terlepas dari tempat
masyarakat itu berada. Masalah tempat menyengkut linkungan alam dan keadaan
geografis. Lingkungan alam dan geografis mempengaruhi perilaku dan pola hidup
para anggota masyarakat. Kehidupan
masyarakat juga dipengaruhi oleh tingkat kemajuan yang telh dicapainya.
B.
Perkembangan
Masyarakat
1. Perubahan
Pola pekerjaaan
Karena
pengaruh perkembangan teknologi maka terjadi perubahan yang cukup drastis dalam
pola pekerjaan.masyarakat yang secara berangsur-angsur terutama diperkotaan
sering terjadi loncatan, berubah dari kehidupan
yang berpola agraris ke pola kehidupan industri. Dalam hidup pola
industri, sifat-sifat yang dimiliki masyarakatnya lebih jauh bebeda.
Diversifikasi pekerjaan dan tugas-tugas dalam suatu pekerjaan melahirkan
spesialisasai tersebut. Hal ini mengakibatkan adanya keragaman tugas dan
pekerjaan. Bekerja dibidang industri tidak lagi bergantung kepada musim (hujan
atau kemarau,panas atau dingin), bisa bekerja sepangjang masa, malah bisa
bekerja siang atau malam. Hal ini mengakibatkan hidup santai ditinggalkan dan
diganti dengan pola hidup yang kerja keras mengejar target meningkatkan
produksi.
Dan
bekerja dengan tugas masing-masing dan sesuai dengan konsentrasi masing-masing,
oleh karena itu sifat gotongroyaong semakin menipis dan diganti dengan alur
kerja sama sesuai dengan alur kerja. Penggunaan
peralatan berteknologi tingi tidak menuntut banyak orang, tetapi sedikit orang
akan tetapi berkemampuan tinggi. Sifat kompetetif, baik dengan sesama
karyawan maupun dengan waktu atau prestasi sebelumnya, lebih mewarnai kehidupan
dalam masyarakat industri. Perubahan yang terjdi ini bukan saja karena
peralatan baru atau jenis pekerjaan yang baru, tetapi karena dunia berorientasi
pada pasar.
2. Perubahan
Peranan Wanita
Dewasa
ini jumlah wanita yang berpendidikan relatif seimbang dengan kaum pria, sebagai
akaibat emansipasi yang membuka kesempatan kepada kaum wanita untuk memperoleh
pendidikan. Diperkuat dengan perubahan pandangan tentang kedudukan wanita,
wanita tidak lagi hanya bekerja di rumah, mengurus anak dan keluarga seperti
pada pola kehidupan lama.
Dengan bekerja di luar rumah, wanita
lebih bebas bergerak, berkarya dan berkreasi dibandingkan apabila hanya bekerja
di rumah tangga. Wawasaan dan pengetahuan mereka luas, potensi-potensi yang
dimilikinya da[pat diwujudkan dan disalurkan. Memang banyak pekerjaan-pekerjaan
yang lebih berhasil bila dikerjakan oleh wanita. Wanita yang bekerja dapat menambah
penghasilan keluarga sehingga kesejahteraan ekonomi nkeluarga lebih baik.
Disamping sejumlah kebaikan dari
para wanita yang bekerja, sejumlah masalah dan kesulitan juga muncul. Masalah
pertama berkenan dengan kehidupan sosial-pribadi wanita. Wanita yang bekerja
apabila menikah mempunyai tugas ganda, menyelesaikan tugas-tugas keluarga.
Masalah kedua berkenan dengan kehidupan keluarga. Wanita betapapun tinggi
tingkat pendidikan dan jabatan yang dipegangnya, tidak bisa dilepaskan dari
kodratnya sebagai wanita, sebagai istri dan ibu. Tugas yang banyak menyita
waktu, tenaga dan perhatian dalam pekerjaan dan karier, bgaimanapun
akanmenelentarkan pelaksanaan tugas-tugasnya dalam rumah tangga. Hal itu
mengakibatkan keluarga tidak harmonis, pendidikan anak terbengkalai,
kesejahteraan rumah tangga terabaikan dan mungkin terjadi perpecahan
keluarga(Broken Home). Perpecahan keluarga ada dua macam pecah secara stuktur à
cerai antara suami dan istri dan kedua pecah secara fungsi àtidak
bercerai tetapi masing-masing pihak tidak melaksanakan fungsi yang semestinya.
Masalah ketiga brkenaan dengan
situassi pekerjaan. Pekerjaan dan karier bukan hanya tempat beristirahat,
tetapi tempat berkarya, berekreasi, berprestasi dan berkompetensi. Situassi
tersebut akan menuntut sikap,penampilan,pemikiran dan unjuk kerja yang optimal.
Masalah tersebut akan bertambah lagi apabila terjadi situasi-situasi yang tidak
sehat atau meyimpang.
3. Perubahan
Kehidupan Keluarga
Perkembangan kehidupan keluarga
sejalan dengan perkembangan masyarakat.
Pola kerja masyarakat modern (industri) menuntut waktu kerja yang tidak
teratur, melebihi waktu biasa. Dalam keluarga ,anak juga mempunyai masalah
sendiri. Anak-anak yang belum bersekolah tinggal dirumah bersama pembantu.
Mereka lebih banyak hidup dan bergaul dengan pembantu daripada dengan orang
tuanya.
Banyaknya waktu yang digunakan untuk
bekerja akan seimbang dengan penghasilan yang diperoleh. Apalagi bila
suami-istri bekerja penghasilan mereka jauh lebih banyak. Penghasilan tinggi akan meningkatkan
kemampuan ekonomi dan kesejahteraan keluarga. Disamping memperoleh nilai lebih
dari pola kerja pada masyarakat modern, beberapa masalah juga dihadapi dalam
kehidupan keluarga. Kesibukan di luar batas kewajaran bisa mengorbankan
pelaksanaan fungsi-fungsi keluarga.
Hubungan harmonis antara
suami-istri , komunikasi pedagogis antara orangtua dan anak bisa sangat
terbatas,bahkan mungkin hilang.
Di
lain pihak juga memberikan sumbangan tentang aspek sosial ~ budaya ialah :
Perubahan pola hidup, yaitu terjadinya
perubahan dari masyarakat agraris tradisional menuju kehidupan industri
modern.Perubahan tersebut dapat dilihat dalam beberapa :
a. Pola kerja, pada masyarakat agraris cenderung teratur berlangsung siang hari, dari pagi hingga sore, tetapi tidak demikian pada masyarakat indutri, mereka cenderung tidak teratur, dan memiliki waktu yang lebih panjang.
a. Pola kerja, pada masyarakat agraris cenderung teratur berlangsung siang hari, dari pagi hingga sore, tetapi tidak demikian pada masyarakat indutri, mereka cenderung tidak teratur, dan memiliki waktu yang lebih panjang.
b. Pola
hidup yang sangat bergantung pada hasil teknologi, pada masyarakat industry
ketergantungan pada hasil teknologi lebih tinggi, bahwa dalam kehidupannya
menjadi suatu yang harus dipenuhi, daripada masyarakat petani yang agraris
tradisional
c. Pola
hidup dalam system perekonomian baru, yaitu bahwa pertumbuhan ekonomi, ditandai
dengan penggunaan produk perbankan dengan sistim baru, munculnya pasar modern
yang semakin menggeser pasar tradisional, tidak hanya membawa dampak positif
saja tetapi terkadang pengaruh negative
terhadap pola hidup masyarakat. Tiga hal tersebut merupakan hal-hal yang perlu
diperhatikan ketika akan menyusun kurikulum, sehingga dapat ditentukan muatan
atau materi untuk bekal menghadapi kondisi tersebut.
d. Perubahan
kehidupan politik, yaitu perubahan politik yang diakibatkan era globalisasi,
perubahan yang terjadi baik dalam wilayah nasional maupun internasional.
Sebagai contoh di Indonesia, dengan era reformasinya, maka semua aspek berubah,
tidak terkecuali pendidikan. Pendidikan harus diarahkan untuk menciptakan
manusia yang kritis dan demokratis. Karena itu perubahan kea rah transparansi
harus ditangkap oleh para pengembang kurikulum. Kehidupan demokratis harus
menjiwai kurikulum. Hal ini yang mendasari munculnya produk hukum yang
memberikan kewenangan daerah untuk mengurusi rumah tangganya termasuk dalam
bidang pendidikan. Sinyal yang harus ditangkap para pengembang kurikulum di
daerah, untuk memberdayakan pendidikan sebagai pembentuk generasi yang handal
sesuai dengan nilai dan kebutuhan masyarakat local, nasional, maupun global. Berkaitan
dengan sosial budaya ini yang harus dilakukan oleh para pengembang sebelum
menyusun kurikulum ialah:
a. Mempelajari dan memahami kebutuhan masyarakat
seperti yang dirumuskan dalam peraturan,perundangan.
b.Menganalisis budaya masyarakat
tempat sekolah/madrasahberada c.Menganalisiskekuatan serta potensi daerah
d.Menganalisis syarat dan tuntutan
tenagakerja
e. Menginterpretasi kebutuhan individu dalam kerangka kepentingan masyarakat
e. Menginterpretasi kebutuhan individu dalam kerangka kepentingan masyarakat
KESIMPULAN :
Kurikulum
merupakan suatu rancangan pendidikan. Sebagai suatu rancangan, kurikulum
memiliki peran dalam mengarahkan pelaksanaan dan hasil pendidikan. pendidikan
bukan hanya untuk pendidikan semata, namun lebih dari itu memberikan bekal
pengetahuan, keterampilan serta nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai
perkembangan lebih lanjut di masyarakat. Peserta didik berasal dari masyarakat,
mendapatkan pendidikan baik formal maupun informal dalam lingkungan masyarakat
dan diarahkan bagi kehidupan masyarakat pula. Kehidupan masyarakat, dengan
segala karakteristik dan kekayaan budayanya menjadi landasan dan sekaligus
acuan bagi pendidikan. Untuk itu
muncullah pengembangan kurikulum yaitu untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Sumber Buku : Prof.Dr.S.
Nasution,M.A “Asas-Asas Kurikulum”, Prof.
Dr. Nana Syaqdih Sukmadinata “Pengembangan
Kurikulum”, Arif Rohman menuliskan
dalam bukunya “Pendidikan Komperatif”.
Landasan sosial budaya
Kurikulum merupakan suatu rancangan
pendidikan. Sebagai suatu rancangan, kurikulum memiliki peran dalam mengarahkan
pelaksanaan dan hasil pendidikan. Kita telah memahami bersama bahwa pendidikan
merupakan usaha mempersiapkan peserta didik untuk terjun ke lingkungan
masyarakatnya. karena itu, pendidikan bukan hanya untuk pendidikan semata,
namun lebih dari itu memberikan bekal pengetahuan, keterampilan serta
nilai-nilai untuk hidup, bekerja dan mencapai perkembangan lebih lanjut di
masyarakat. Peserta didik berasal dari masyarakat, mendapatkan pendidikan baik
formal maupun informal dalam lingkungan masyarakat dan diarahkan bagi kehidupan
masyarakat pula. Kehidupan masyarakat, dengan segala karakteristik dan kekayaan
budayanya menjadi landasan dan sekaligus acuan bagi pendidikan. Dengan
pendidikan, kita semua berharap muncul manusia – manusia mampu memahami
masyarakat dan mampu membangun kehidupan masyakatnya. Dengan pentingnya peran
kurikulum tersebut, tujuan, isi, maupun proses pendidikan harus disesuaikan
dengan kebutuhan, kondisi, karakteristik, kekayaan dan perkembangan yang ada di
masyarakat, yang mana setiap lingkungan masyarakat masing-masing
memiliki-sosial budaya tersendiri yang mengatur pola kehidupan dan pola
hubungan antar anggota masyarakat. Salah satu aspek penting dalam sistem sosial
budaya adalah tatanan nilai-nilai yang mengatur cara berkehidupan dan
berperilaku masyarakat. Nilai-nilai tersebut dapat bersumber dari agama, budaya,
politik atau segi-segi kehidupan lainnya. Sejalan dengan perkembangan
masyarakat maka nilai-nilai yang ada dalam masyarakat juga turut berkembang,
sehingga menuntut setiap warga masyarakat untuk melakukan evalusi,
pengembangan, penyesuaian, bahkan perubahan pola hidup masyarakat mengikuti
tuntutan perkembangan yang terjadi di sekitar masyarakat. Israel Scheffer (Nana
Syaodih Sukamdinata, 1997) mengemukakan bahwa melalui pendidikan manusia
mengenal peradaban masa lalu, turut serta dalam peradaban sekarang dan membuat
peradaban masa yang akan datang. Dengan demikian, kurikulum yang dikembangkan
sudah seharusnya mempertimbangkan, merespons dan menjadikan perkembangan
sosial-budaya dalam suatu masyarakat, baik dalam konteks lokal, nasional maupun
global sebagai salah satu landasan yang harus dijadikan tempat berpijak.
Kita maklumi bersama bahwa masyarakat tidak bersifat
statis. Seiring kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, masyarakat juga
mengalami perubahan, menuju masyarakat yang semakin kompleks. Perubahan
tersebut bukan hanya terjadi pada system nilai tetapi juga pada pola kehidupan,
struktur sosial, kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Kompleksitas tersebut yang
selanjutnya memunculkan kelompok-kelompok sosial, tertentu yang selanjutnya
memengaruhi kurikukulum, seperti tekanan-tekanan dari kelompok politik tertentu
terhadap materi pendidikan, belum lagi tekanan dari kelompok lain yang memiliki
pandangan yang berbeda.
Pengembang kurikulum, meskipun
sulit, harus memerhatikan setiap tuntutan dan tekanan masyarakat yang
berbeda-berbeda. Di sini perlu adanya usaha untuk menyerap berbagai informasi
yang dibutuhkan masyarakat. Selanjutnya para pengembang kurikulum perlu
menjalankan peran evaluative dan kritisnya dalam menentukan muatan kurikulum,
untuk menentukan muatan-muatan yang memang layak untuk dimasukkan dalam
kurikulum.
Sumber
Buku :
Prof.Dr.S.
Nasution,M.A “Asas-Asas Kurikulum”
Prof.
Dr. Nana Syaqdih Sukmadinata “Pengembangan Kurikulum”
perbuatan-Mu yang memampukanku
BalasHapusthanks Lord